Wednesday, July 15, 2009

dalam MEETING


Meeting adalah pekerjaan paling membosankan terutama bila keberadaan kita hanya sebagai objek pelengkap semata, antara ada dan tiada. Mau menguap saja susah. Itu mah tinggal latihan kembang kempis hidung doang neng... Ada orang yang kerjaannya meeting terus, seperti diriku. Meeting apaan, kerja kelompok kalee.. Tapi asik kalau melihat beberapa orang berkumpul beradu argumen. Ada yang muda, ada yang senior, ada manajer, ada anak buah. Ada yang dominan, ada yang defensif, ada yang optimistis, ada juga yang manggut-manggut saja. Mungkin itu adalah mereka yang mau menguap tapi tidak bisa. Ada juga yang dari tadi sibuk blackberry-an, weleh weleh..

Yang paling menarik adalah melihat cara mereka berbicara. Karena cara seseorang menyampaikan pendapat akan memperlihatkan kurang lebih manusia seperti apa mereka. Mana orang yang bisa menempatkan posisi, mana orang yang seenak udhelnya. Mana atasan yang bisa menghargai pendapat bawahannya, mana junior yang tahu unggah ungguh pada senior. Mana orang yang suka banget memotong omongan orang lain. Mana orang yang irit berbicara, tetapi sekali ngomong langsung mak nyuss.. Emang makanan apa? Seperti kejadian kemarin.

Bukan meeting sih, ... kerja kelompok ya neng? bukan juga. Cuma pemaparan yang diakhiri dengan diskusi. Kebetulan yang memberi paparan adalah profesor dari insitut teknologi terkenal di Bandung. Paparan yang disampaikan mungkin kurang menarik, itu terlihat dari raut muka peserta. Dan terus terang banyak yang garuk-garuk kepala karena informasi yang disampaikan kurang relevan. Bisa jadi karena beda merek, yang satu otak profesor yang lain otak pegawai...jadi susah nyambungnya. Itu adalah bahasa tubuh yang bisa dilihat. Tetapi atas nama kesopanan dan apresiasi, peserta tetap duduk di tempat, menyimak dan aktif terlibat diskusi. Tapi ada satu peserta yang mewakili generasi termuda dan idealis angkat bicara dan straight forward berkata bahwa paparan itu tidak ada relevansinya dengan kebutuhan saat ini. Kontan pandangan langsung tertuju pada si empunya suara. Ada yang lalu menundukkan kepala, itu diriku sih. Karena sebenarnya aku malu. Mungkin semua orang yang ada di ruangan itu sependapat dengan anak muda tadi. Tapi pendapat itu cukup terendap dalam pikiran, tidak perlu diutarakan.

Keterbukaan dan kebebasan berbicara memang diakui, tetapi juga perlu melihat tempat dan waktu. Kayak kamu ga pernah gitu aja neng...

No comments:

Post a Comment

Post a Comment