Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts

Monday, June 28, 2010

back to YOU

You were here, before I realize
Your love is real, before I know what love is
Every second your love is only made for me
Sealed in every sunshine
As mild as morning coffee, refresh each part of me
 
Your love like a sun
So genuine that never expect any return
Your love is spacious
So broad that never get less or shrink
Your love as solid as coral
Never turn to somebody else, standing still just for me
 
You teach me how to take and gve
You show me the beauty of life trough your love stance
Your immense love
Your greatest love, how come I cheat on you?
 
But another love coming and greeeting
Offering a new color in a different impression
And I got easily trapped within
Humanly love that alluring, yet could be so sore
Teach me another meaning of love words
Mortal, temporary dan deadly
 
Only your love is timeless
Only yours is truthful
Accept me in my nudity, bluntness, and weakness
Only you who embrace me in weariness and slenderness
And I was the most stupid living who ignored and forgot you
When you never even once leave me
And you smile wider welcoming me back
Last night...
When I cried...
Knocking your door...
My gorgeous prince,
Allah
 
 
 
 
 
Allahu akbar, 28 June 2010

Wednesday, July 29, 2009

Tahmid Shubuh

*a poem)

alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah
untaian tahmid tidak pernah lepas dari mulutnya begitu bangun di pagi hari
sensasi dingin yang sempat menyusup tulang tidak berhasil menyelewengkan pikirannya
alhamdulillah dia masih bisa merasakan dingin
alhamdulillah dia masih bisa merasakan sakit yang selama sekian tahun terakhir selalu menghujamnya
entah sampai kapan Allah mengujinya
namun dia bahagia karena Dia masih ada untuknya
dalam setiap keluhan dan isakan panjang yang hanya ia simpan dalam hatinya

alhamdulillah pagi menyapa tanpa peluru mendesing di kepala
alhamdulillah pagi datang tanpa lapar menendang perutnya karena nasi goreng semalam
alhamdulillan pagi tiba tanpa kekuatiran akan tujuan hidupnya
alhamdulillah iman itu masih dia pegang

pagi menjelma siang
siang menggantikan malam
siklus waktu yang menenggelamkan manusia dalam kesibukan duniawi
bekerja, bekerja dan terus bekerja lagi
alhamdulillah di saat dia ikut terjerumus arus Dia selalu menyadarkannya dalam setiap cukilan peristiwa
tersembunyi tanpa bermaksud tidak kelihatan
hanya manusia yang membedakan dalam setiap cara ia memandang

seperti pagi ini
manusia bergerak bagai mayat tanpa nurani dan pikiran
berpacu melawan waktu dan macetnya jakarta
tapi ada seorang ibu tua dengan gendongan sayur di punggungnya
menanti dengan sabar surutnya arus untuk menyeberang
tapi adakah sepasang mata yang memperhatikan
berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus pasang mata dalam mobil melintas
tapi tak satupun yang memperhatikan
termasuk dia hingga dia menangkap sosok ibunya di tubuh renta perempuan itu

mengapa semuanya harus dibalikkan kepadanya
apakah harga manusia tidak sama
mereka juga makhluk yang punya perasaan
yang perasaan itu bisa padam tergerus kemunafikan dunia
mereka juga makhluk yang punya nurani
yang nurani itu bisa hilang tergantikan tirani
mereka juga makhluk yang punya nyawa
yang nyawa itu kini dihargai dua ratus ribu

pertanyaan itu berputar-putar dalam kepalanya
menambah ketidaktahuannya tentang dunia dan penciptanya
menambah kerinduannya padaNya
cintanya pada maha cinta